
Macam-Macam Tes Kepribadian Untuk Seleksi Karyawan
12 May 2022
Beberapa tahun terakhir, media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter dipenuhi konten soal kepribadian. Dari zodiac signs sampai MBTI, banyak orang penasaran ingin tahu kepribadian mereka lewat label-label populer. Tidak jarang, unggahan ini viral karena orang merasa “klik” dengan deskripsi yang dibagikan.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan kebutuhan generasi muda untuk memahami diri. Di sisi lain, penggunaan label seperti ini kerap bersifat superfisial. Misalnya, seseorang yang bertipe “INFJ” di MBTI bisa langsung merasa cocok dengan semua deskripsi tanpa mempertimbangkan konteks pengalaman hidupnya. Begitu juga dengan zodiac, banyak yang merasa sifatnya sesuai dengan ramalan bintang tanpa ada dasar ilmiah.
Ada beberapa alasan mengapa konten kepribadian viral di media sosial:
Meski sifatnya ringan, tren ini menandakan ada kebutuhan mendalam: generasi muda ingin memahami kepribadian, karakter, serta kecenderungan diri mereka.
Meskipun seru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, konten zodiac dan MBTI di medsos biasanya bersifat generalisasi. Tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan kompleksitas perilaku manusia secara lengkap.
Kedua, terlalu mengandalkan label ini bisa membuat seseorang menutup diri. Misalnya, seorang yang merasa “typical INFP” mungkin menolak mencoba aktivitas yang tidak sesuai dengan deskripsi online, padahal sebenarnya kemampuan dan minatnya lebih luas.
Ketiga, bisa menimbulkan perbandingan sosial. Saat melihat teman “ENTJ” terlihat lebih sukses atau tegas, seseorang mungkin merasa rendah diri, padahal tipe kepribadian hanyalah salah satu aspek kecil dari keseluruhan individu.
Di TikTok dan Instagram, banyak konten membahas perbandingan MBTI dengan zodiac, seperti “INFJ vs Scorpio” atau “ENTP vs Leo.” Konten semacam ini mendapat jutaan tayangan karena sifatnya relatable dan mudah diikuti. Namun, pakar psikologi menekankan, konten viral tidak selalu akurat.
Fakta menarik: sebuah survei di AS pada 2024 menunjukkan lebih dari 60% Gen Z mengaku pernah mencoba mengidentifikasi diri lewat MBTI atau zodiac, tapi hanya 20% yang pernah mengikuti tes kepribadian ilmiah. Artinya, ada kesenjangan besar antara hiburan dan pemahaman diri yang valid.
Selain itu, tren self-diagnosis online tidak hanya terjadi di ranah kepribadian. Banyak orang menggunakan kuis cepat untuk menilai tingkat stres, gaya belajar, atau kemampuan sosial. Hal ini menunjukkan kebutuhan generasi muda akan refleksi diri, tapi dengan format yang mudah diakses.
Pertama, hasil tes lebih objektif. Soal dibuat untuk meminimalkan bias subjektif. Kedua, interpretasi hasil biasanya dilengkapi panduan yang membantu pengguna memahami konteks perilaku mereka. Misalnya, jika seseorang memiliki skor tinggi pada keterbukaan terhadap pengalaman baru, bisa disarankan untuk mengeksplorasi proyek kreatif.
Ketiga, tes ilmiah bisa digunakan untuk pengembangan karier. Banyak perusahaan menggunakan model Big Five atau DISC untuk menilai kecocokan karyawan dengan posisi tertentu. Ini berbeda dengan MBTI atau zodiac yang lebih bersifat hiburan dan tidak punya dasar pengambilan keputusan profesional.
Tidak ada salahnya tetap menikmati konten zodiac atau MBTI di media sosial sebagai hiburan. Namun, penting juga mengetahui batasannya. Jika ingin memahami diri lebih akurat, mengikuti tes kepribadian online berbasis psikologi menjadi langkah bijak.
Dengan hasil tes yang valid, seseorang bisa lebih paham:
Tren zodiac dan MBTI menunjukkan bahwa generasi muda ingin memahami diri. Tapi hiburan semata tidak cukup untuk membuat keputusan penting dalam hidup. Tes kepribadian online berbasis ilmiah hadir sebagai alternatif yang lebih akurat dan bermanfaat, membantu setiap individu memahami karakter, potensi, dan arah pengembangan diri.
NSD (Nirmala Satya Development) menyediakan platform tes kepribadian online yang mudah diakses, sehingga pengguna bisa mendapatkan panduan nyata untuk mengenal diri lebih baik tanpa terjebak pada generalisasi sosial media. Dengan cara ini, refleksi diri menjadi lebih terarah, menyenangkan, dan bermakna.
Rencanakan karir sejak dini. Penentuan karir seyogyanya ditentukan sebelum mengambil Program Studi di Perguruan Tinggi. Keliru mengambil program studi, akan berdampak besar terhadap karir dan bahkan masa depanmu.
Dengan mengikuti program ini, kamu akan mengikuti psikotes dan bimbingan karir, dan mendapatkan resume hasil pemeriksaan psikologis sekaligus saran pengembangan karir dari Tim KONSELOR secara langsung.
Note: Diperuntukkan khusus siswa kelas 3 SMA atau yang akan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi.
Tentukan masa depanmu, dengan mengikuti program perencanaan karir !!!

31 May 2025

21 June 2025

14 July 2025

18 July 2025

19 July 2025

16 August 2025

19 August 2025

21 August 2025

03 September 2025

24 September 2025

04 October 2025

11 December 2025

14 December 2025


Nilai dan Berikan Komentar